Hikikomori berasal dari kata menarik diri.
Kebanyakan,hikikomori adalah laki-laki, walau ada juga yang perempuan. Faktor
penyebab nya tidak begitu jelas, Namun kebanyakan publik menyalahkan faktor
keluarga, dimana hilangnya figur seorang ayah karena bekerja dari pagi hingga
larut malam hingga tidak sempat melakukan interaksi dengan anaknya, serta ibu
yang dianggap terlalu memanjakan anaknya (mungkin karena jumlah anak yang
dimiliki keluarga Jepang itu sedikit). Tekanan akademik di sekolah, pelecehan
di sekolah (school bullying), dan video game di Jepang yang luar biasa
menggoda. Mungkin bisa di bilang mereka menarik diri dari tekanan kompetisi
pelajar, pelaku ekonomi atau pekerja di negara yang luar biasa kompetisi-nya.
Jumlah pastinya tidak diketahui pasti, ada yang menghitung sekitar 1 persen
dari populasi. Ini berarti sekitar 1 juta orang Jepang hikikomori. Hitungan yang
lebih konservatif berkisar antara 100 ribu dan 320 ribu orang yang hikikomori.
Mereka biasanya berusia 13-14 tahun, walau kadang ada orang yang menjadi hikikomori
bahkan lebih dari 10tahun.
bahkan lebih dari 10tahun.
Mungkin orang akan menganggap hikikomori itu sama dengan
otaku. Namun sebenarnya berbeda. otaku adalah orang yang memiliki minat atau
hobi yang berlebihan sehingga mereka mengabaikan kegiatan yang lain, tapi mereka
masih berinteraksi dengan keluarga atau teman di dunia nyata. Seperti penggemar
komik yang berlebihan, atau orang yang suka dengan model kit secara berlebihan.
Namun semua hikikomori itu otaku, karena pelarian dari beban mereka adalah
dengan memfokuskan diri pada hal yang mereka sukai agar mereka tidak teringat
akan sakitnya pergaulan sosial itu. Yang mereka lakukan? tentu saja hanya diam
dikamar dan bergulat dengan dunia maya, menonton anime, baca manga, bahkan
terkadang aktivitas makan dan buang air kecil dilakukan dikamar. Walau tidak
punya kamar mandi mereka akan menampunya di plastik atau botol. Lantas
bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhannya. biasanya hikikomori akan keluar
sebulan sekali untuk membeli perlengkapan "mengurung diri"nya, mereka
tetap
mendapat uang dari orangtua, bahkan terkadang mereka memaksa orangtua untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hal yang terekstrim adalah ada juga hikikomori yang menculik gadis kecil untuk "disimpan" sebagai "teman" di kamarnya. mereka mungkin akan melepaskan gadis tersebut klo mereka ingin, atau gadis itu harus mencari jalan keluarnya sendiri, atau dia tidak akan pernah
bisa keluar lagi. Tekanan disekolah sedikit banyak juga berpengaruh, misalnya karena pribadi itu terlalu gemuk, atau kurus, memiliki bentuk fisik yang berbeda dari yang lainnya
seperti tinggi badan, atau karena dia memiliki kelebihan lain.
mendapat uang dari orangtua, bahkan terkadang mereka memaksa orangtua untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hal yang terekstrim adalah ada juga hikikomori yang menculik gadis kecil untuk "disimpan" sebagai "teman" di kamarnya. mereka mungkin akan melepaskan gadis tersebut klo mereka ingin, atau gadis itu harus mencari jalan keluarnya sendiri, atau dia tidak akan pernah
bisa keluar lagi. Tekanan disekolah sedikit banyak juga berpengaruh, misalnya karena pribadi itu terlalu gemuk, atau kurus, memiliki bentuk fisik yang berbeda dari yang lainnya
seperti tinggi badan, atau karena dia memiliki kelebihan lain.
Ada tulisan yang nyatakan bahwa ada hikikomori yang
sebenarnya anak berbakat dalam bidang olahraga namun tidak memiliki kesempatan
untuk menunjukkannya disekolah. Seperti pepatah jepang, paku yang menonjol akan
dipalu untuk menjadi seragam. Di jepang, keseragaman adalah utama, penampilan
dan respek (postur tubuh atau muka) adalah penting, maka pemberontakan akan
kompetisi dilakukan dengan menarik diri. Semakin tua seseorang hikikomori,
semakin kecil kemungkinan dia bisa berkompeten di dunia luarnya. Bila setahun
lebih hikikomori, ada kemungkinan dia tidak bisa kembali normal lagi untuk
bekerja atau membangun relasi
sosial dalam waktu lama, menikah misalnya. Beberapa tidak akan pernah meninggalkan rumah orang tuanya. Pada banyak kasus, saat orang tuanya meninggal atau pensiun akan menimbulkan masalah karena mereka tanpa kemampuan kerja dan sosial minimal – bahkan untuk
membicarakan masalahnya dengan orang lain atau kantor pemerintah.
sosial dalam waktu lama, menikah misalnya. Beberapa tidak akan pernah meninggalkan rumah orang tuanya. Pada banyak kasus, saat orang tuanya meninggal atau pensiun akan menimbulkan masalah karena mereka tanpa kemampuan kerja dan sosial minimal – bahkan untuk
membicarakan masalahnya dengan orang lain atau kantor pemerintah.
Hikikomori memang salah satu masalah bagi Jepang, setelah
lebih dari satu dekade sebelumya menikmati kemajuan ekonomi yang luar biasa.
Beberapa dekade
terakhir ini, negara jepang masih bergulat mengembalikan kejayaan ekonominya walau masih jauh dari puncak sebelumnya. Akibatnya banyak lowongan kerja penuh waktu atau salariman
(yang menerima gaji tetap tiap bulan dan akan menikmati uang pensiun) menjadi hal yang sulit
di dapat. Walau pekerjaan paruh waktu tetap banyak, tetapi kemapanan bekerja di satu perusahaan dengan gaji tetap tiap bulan dan menikmati keamanan uang pensiun merupakan angan-angan sebagian besar pekerja di Jepang. Satu sebab lainnya adalah kultur gender, dimana anak laki-laki mendapat tekanan untuk sukses di bidang akademik dan pekerjaan dibanding anak perempuan. Seperti biasa, sekolah dari pagi hingga sore kemudian dilanjutkan dengan sekolah private untuk persiapan masuk universitas hampir selama tujuh hari seminggu . Karena hanya dengan masuk universitas bergengsi (Universitas Tokyo, misalnya), mereka bisa di rekrut masuk dalam kelas pekerja tetap dan menikmati pensiun. Sisanya bekerja di pekerjaan paruh waktu atau tanpa pekerjaan sama sekali, yang tidak memberikan keamanan finansial yang tetap. Dimana pada satu titik, beberapa merasa masa bodoh dengan tekanan ini, keluar dari jalur kompetisi dan menutup dirinya – hikikomori. Alhasil ada sekelompok pemuda yang tidak bisa dan tidak akan ikut dalam kelas
pekerja Jepang – yang terkenal pekerja keras itu.
terakhir ini, negara jepang masih bergulat mengembalikan kejayaan ekonominya walau masih jauh dari puncak sebelumnya. Akibatnya banyak lowongan kerja penuh waktu atau salariman
(yang menerima gaji tetap tiap bulan dan akan menikmati uang pensiun) menjadi hal yang sulit
di dapat. Walau pekerjaan paruh waktu tetap banyak, tetapi kemapanan bekerja di satu perusahaan dengan gaji tetap tiap bulan dan menikmati keamanan uang pensiun merupakan angan-angan sebagian besar pekerja di Jepang. Satu sebab lainnya adalah kultur gender, dimana anak laki-laki mendapat tekanan untuk sukses di bidang akademik dan pekerjaan dibanding anak perempuan. Seperti biasa, sekolah dari pagi hingga sore kemudian dilanjutkan dengan sekolah private untuk persiapan masuk universitas hampir selama tujuh hari seminggu . Karena hanya dengan masuk universitas bergengsi (Universitas Tokyo, misalnya), mereka bisa di rekrut masuk dalam kelas pekerja tetap dan menikmati pensiun. Sisanya bekerja di pekerjaan paruh waktu atau tanpa pekerjaan sama sekali, yang tidak memberikan keamanan finansial yang tetap. Dimana pada satu titik, beberapa merasa masa bodoh dengan tekanan ini, keluar dari jalur kompetisi dan menutup dirinya – hikikomori. Alhasil ada sekelompok pemuda yang tidak bisa dan tidak akan ikut dalam kelas
pekerja Jepang – yang terkenal pekerja keras itu.
Walau para hikikomori tidak memiliki teman di dunia nyata tapi
mereka memiliki jaringan para hikikomori didunia maya. Kegiatannya? tentu saja
berbagi informasi tentang game yang baru release, atau ada anime baru, atau tentang
artis cantik yang menjadi idola remaja. dan mereka berinteraksi tanpa pernah
bertemu satu sama lain. Mungkin Fenomena ini belum banyak ada di Indonesia, namun
kita perlu mewaspadainya mulai dari sekarang. Menjaga interaksi yang baik
dengan keluarga juga merupakan usaha pencegahan, keterbukaan satu sama lain,
support, serta mau mendengarkan merupakan bantuan yang tepat bagi orang
terutama dalam keluarga kita supaya mereka tidak semakin tertekan hingga
ahkirnya terjerumus ke hal-hal negatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar